Pati - Sebanyak 230 siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keluhan kesehatan mulai muncul pada malam hari hingga berlanjut pada Rabu (9/9/2026) pagi.

Dua sekolah yang siswanya terdampak yakni MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong. Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 127 siswa MTsN 3 Pati dan 103 siswa SMPN 1 Gembong mengalami keluhan kesehatan.

Kejadian bermula pada Selasa (8/9/2026), ketika makanan MBG dari SPPG Gembong 1 Ngembes dibagikan kepada siswa. Namun, makanan tersebut tiba lebih lambat dari waktu makan yang biasanya dijadwalkan sekitar pukul 11.20 WIB.

Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, mengatakan makanan baru tiba sekitar pukul 12.00 WIB lebih.

“MBG dari SPPG ini datangnya terlambat, sekitar jam 12-an. Anak-anak yang biasanya jadwal makan jam 11.20, sampai jam 12 belum datang,” ujar Zaenal.

Setelah mengonsumsi makanan tersebut, keluhan mulai dirasakan sejumlah siswa pada malam harinya. Sekitar pukul 23.00 WIB, beberapa siswa mulai mengalami sakit perut dan diare.

Keluhan tersebut kemudian terus bertambah hingga Rabu pagi. Dari total 565 siswa MTsN 3 Pati, sementara tercatat 127 siswa mengalami keluhan.

Kondisi serupa terjadi di SMPN 1 Gembong. Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, mengatakan pihak sekolah baru mengetahui banyak siswa mengalami keluhan pada Rabu pagi.

Awalnya, sejumlah siswa mengeluhkan sakit perut dan berulang kali pergi ke kamar mandi. Jumlah siswa yang mengalami keluhan kemudian bertambah seiring waktu.

“Awal ketahunya malah tadi pagi. Anak-anak banyak yang ke kamar mandi. Kemudian semakin siang semakin banyak,” kata Istiana.

Dari 443 siswa SMPN 1 Gembong, sebanyak 103 siswa dilaporkan mengalami keluhan. Selain siswa, sekitar 13 guru yang ikut mengonsumsi makanan MBG juga disebut mengalami keluhan kesehatan.

Seiring bertambahnya jumlah siswa yang membutuhkan penanganan, Puskesmas Gembong mengalami kelebihan kapasitas. Para siswa kemudian dirujuk dan mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Pati.

“Tadi Puskesmas sudah overload, kemudian di RSUD Soewondo Pati, kemudian juga di RS Mitra Bangsa, ada juga yang di KSH Pati,” jelas Istiana.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengatakan kejadian tersebut masih dikategorikan sebagai dugaan keracunan makanan. Dinkes belum dapat memastikan makanan MBG sebagai penyebab pasti munculnya keluhan.

“Ini dugaan ya, dugaan kermak dari makanan MBG yang disajikan kemarin, tapi sekali lagi ini masih dugaan,” tegas Luky.

Untuk memastikan penyebabnya, Dinkes Pati melakukan penyelidikan epidemiologis (PE). Petugas juga mengambil sampel makanan yang disajikan SPPG Gembong 1 Ngembes untuk diperiksa di laboratorium.

“Sample tentunya makanan yang disajikan kemarin semuanya. Kita ambil dari bank sampel yang ada di SPPG,” jelas Luky.

Hingga Rabu, jumlah siswa dan guru yang mengalami keluhan masih berpotensi bertambah. Dinkes masih melakukan pendataan serta mencocokkan data dengan sejumlah fasilitas kesehatan tempat para siswa mendapatkan penanganan.

“Data kita masih dinamis, jadi kami belum bisa memastikan berapa jumlahnya. Data akan kita update berdasarkan sinkronisasi kami dengan faskes yang ada di Soewondo, Mitra, dan juga KSH,” katanya.

Luky memastikan penanganan terhadap para siswa masih berlangsung. Sebagian pasien yang kondisinya membaik bahkan telah diperbolehkan pulang.

“Yang di sekolah masih bisa tertangani, bahkan beberapa sudah ada yang pulang,” ungkapnya.

Sebagai langkah sementara, seluruh siswa dari MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong dipulangkan sembari menunggu perkembangan kondisi para siswa serta hasil pemeriksaan.

Dinkes Pati memperkirakan hasil penyelidikan epidemiologis dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua pekan.

“Sekitar satu-dua mingguan kita baru bisa (mengetahui hasilnya),” pungkas Luky.