Oleh: Madarudin Lapandewa
Politika.co.id - Akhir tahun kerap disambut dengan letupan kembang api dan hitung mundur yang gegap gempita. Langit diterangi cahaya sesaat, lalu kembali gelap. Euforia datang dan pergi, meninggalkan tanya yang jarang diajukan: apa yang benar-benar berubah selain angka di kalender?
Di sela hiruk-pikuk itulah Komunitas Risalah Nur memilih jalan sunyi, menghadirkan kelas kajian filsafat akhir tahun pada 29–31 Desember 2025. Sebuah ikhtiar kecil untuk merawat kesadaran, menumbuhkan cinta kebijaksanaan terhadap Alam Semesta, manusia, dan sejarah.
Beberapa Tinjauan Teoritis
“filsafat tidak sekadar mencerminkan zaman yang kita hidupi, tetapi juga membimbing kita melangkah ke depan.”
Kajian ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan perjalanan batin. Seperti cerita yang berlapis, ia dimulai dari keheningan: duduk melingkar, menyimak, dan meragukan ulang apa yang selama ini dianggap pasti. Sebab, sebagaimana ditegaskan S. Radhakrishnan, “filsafat tidak sekadar mencerminkan zaman yang kita hidupi, tetapi juga membimbing kita melangkah ke depan.” Filsafat, dalam makna terdalamnya, bukan nostalgia intelektual, melainkan kompas moral.
Bryan Magee, dalam The Story of Philosophy, menyebut filsafat berawal ketika manusia berusaha memahami dunianya. Dunia, di sini, bukan hanya ruang tinggal, tetapi risalah kebenaran tempat tarik-menarik Yin dan Yang dalam dimensi kemanusiaan. Ketika upaya memahami itu berhenti, manusia tak lagi menjadi subjek sejarah, melainkan korban dari arus yang ia ciptakan sendiri.
Secara etimologis, filsafat berasal dari philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Namun cinta kerap disempitkan maknanya: direduksi menjadi rasa suka, hasrat, atau afeksi personal. Padahal, dalam akar Sanskerta, “cinta” mengandung makna pikiran, refleksi, kekhawatiran, bahkan kegelisahan. Di titik inilah cinta menemukan kesuciannya—sebagai kesadaran kosmologis dan kosmogonis. Cinta bukan kenyamanan, melainkan tanggung jawab eksistensial.
Maka, kecintaan manusia sejatinya harus hidup dalam ruang kegelisahan. Bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menjaga kewarasan moral. Philos yang sejati tidak pernah puas; ia gelisah ketika melihat ketimpangan, resah saat menyaksikan ketidakadilan. Tanpa kegelisahan, cinta berubah menjadi pembenaran diri. Di situlah filsafat kehilangan ruhnya dan berubah menjadi sekadar debat isme—onani intelektual yang melahirkan hasrat kerakusan, sementara kebijaksanaan menjelma risalah pembohongan sejarah.
2025 Sebagai Cermin
Tahun 2025 memberi kita cermin yang jujur. Kerusakan ekosistem terus berlanjut atas nama pembangunan. Hutan dibuka, laut dieksploitasi, tanah diperas tanpa jeda. Di ruang sosial, ketimpangan melebar: yang kuat makin menguat, yang lemah dipaksa bersabar atas nama stabilitas. Di ranah kebijakan, kebenaran sering kali diproduksi lewat klaim sepihak, bukan hasil dialog etis. Negara, yang seharusnya menjadi penjaga keseimbangan, tak jarang terjebak dalam logika pertumbuhan tanpa kebijaksanaan.
Di sinilah “keakuan” mengalami pergeseran makna. Keakuan yang semula dimaknai sebagai kesadaran diri—aku yang bertanggung jawab—berubah menjadi ego kolektif yang rakus. Dari “aku berpikir, maka aku ada,” menjadi “aku menguasai, maka aku berhak.” Kebenaran tidak lagi dicari, melainkan diklaim. Ia tumbuh bukan melalui refleksi, tetapi lewat repetisi kekuasaan.
Padahal, kebenaran dalam kehidupan manusia bersifat dinamis, terus berkembang melalui dialog sejarah. Ketika kebenaran dibekukan menjadi dogma atau dijadikan alat legitimasi, di sanalah filsafat mati. Yang tersisa hanyalah kerakusan yang bersolek dengan bahasa moral.
Persis di situ, refleksi akhir tahun, bukan ritual sentimental. Ia adalah keberanian untuk mengakui kesalahan kolektif, menata ulang orientasi hidup agar selaras dengan fitrah. Manusia diciptakan sebagai khalifah, penjaga, bukan perampas. Menjadi khalifah berarti memperjuangkan kebenaran yang kerap terkubur dalam debu sejarah, bukan menimbunnya demi kepentingan sesaat.
Kelas kajian filsafat Risalah Nur mungkin kecil, nyaris tak terdengar di tengah dentuman kembang api. Namun sejarah selalu bergerak dari ruang-ruang sunyi. Dari kegelisahan yang dirawat, dari cinta yang tidak ingin nyaman, dari kebijaksanaan yang berani melawan arus kerakusan. Di situlah harapan menemukan bentuknya bukan sebagai euforia, melainkan sebagai kesadaran yang bertahan melampaui pergantian tahun.
Rekomendasi:
Biopolitik Pengawasan: Represi Aparat dan Pembatasan Peran Pemuda
Penulis: Madarudin Lapandewa Adalah Founder Komunitas Risalah Nur dan Instruktur/Pengajar di Himpunan Mahasiswa Islam.
Editor: Nasruddin