Oleh: Mahmut Mukadar

Di tengah arus globalisasi yang kian deras, gerakan mahasiswa berada di persimpangan yang menentukan. Teknologi digital, liberalisasi ekonomi, dan penetrasi budaya global telah mengubah wajah aktivisme: dari jalanan ke layar gawai, dari membawa ideologi ke narasi viral. Dalam situasi ini, pertanyaan mendasar mengemuka: masihkah gerakan mahasiswa, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki kerangka berpikir ideologis yang kokoh untuk membaca dan menanggapi perubahan zaman?

Di titik inilah relevansi idiopolstratak (ideologi, politik, strategi, dan taktik) HMI kembali diuji . Idiopolstratak bukan sekadar istilah teknis atau rumusan konsepsi yang hidup di ruang pelatihan. Ia adalah fondasi berpikir gerakan. Ideologi memberi arah nilai, politik menentukan posisi keberpihakan, strategi merumuskan jalan perjuangan, dan taktik menjadi bentuk konkret dari perubahan kerja-kerja.

Namun persoalannya, idiopolstratak sering berhenti menjadi hafalan kaderisasi. Ia dibaca, diuji, lalu dilupakan. Padahal globalisasi menuntut lebih dari sekedar loyalitas terhadap teks; ia menuntut kemampuan menafsirkan dan mengontekstualisasikan nilai-nilai dalam realitas sosial yang terus berubah.

Globalisasi dan Krisis Arah Gerakan

Globalisasi tidak pernah netral. Ia membawa logika pasar, individualisme, dan pragmatisme yang perlahan menyusup ke ruang-ruang gerakan mahasiswa. Tidak sedikit organisasi mahasiswa yang akhirnya terjebak dalam aktivitas seremonial, pencitraan media sosial, atau bahkan menjadi kepanjangan tangan kepentingan elit.

HMI pun tidak sepenuhnya seimbang dengan situasi ini. Ketika ketimpangan sosial, krisis agraria, eksploitasi buruh, dan perampasan ruang kehidupan masyarakat adat semakin nyata, pertanyaan penting harus diajukan: di manakah posisi gerakan politik mahasiswa? Apakah idiopolstratak masih berfungsi sebagai kompas perjuangan, atau telah tergeser oleh logika adaptasi yang kehilangan arah ideologis?

Antara Ketahanan dan Adaptasi

Adaptasi bukanlah pengkhianatan terhadap nilai. Justru tanpa adaptasi, gerakan mahasiswa berisiko kehilangan relevansi sosial. Namun adaptasi yang tidak bertumpu pada ketahanan ideologi hanya akan melahirkan gerakan yang cair—mudah berubah arah dan mudah ditarik kepentingannya.

HMI, sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia, sesungguhnya memiliki modal sejarah dan ideologi yang kuat untuk menjawab tantangan ini. Nilai keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan yang tertanam dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) seharusnya menjadi dasar ketahanan ideologis. Sementara idiopolstratak berfungsi sebagai jembatan antara nilai dan melakukan perjuangan di lapangan.

Menghidupkan Kembali Idiopolstratak

Menghidupkan idiopolstratak berarti mengembalikannya ke realitas sosial. Isu buruh, pendidikan, agraria, lingkungan, dan kebudayaan tidak cukup diperlakukan sebagai tema diskusi, melainkan sebagai ladang praktik. Gerakan mahasiswa harus berani mengambil posisi politik yang jelas, membangun strategi jangka panjang, serta menyusun taktik yang kontekstual—baik melalui advokasi kebijakan maupun pengorganisasian.

Di era digital, taktik memang bisa berubah. Media sosial, penelitian berbasis data, hingga kerja kolaboratif lintas gerakan adalah keniscayaan. Namun ideologi dan arah politik tidak boleh ikut cair. Tanpa itu, gerakan pelajar hanya akan menjadi penonton perubahan, bukan pelaku sejarah.

NDP, Idiopolstratak, dan Posisi Ideologis HMI

Masa depan idiopolstratak dalam arus globalisasi sangat ditentukan oleh keberanian gerakan mahasiswa—termasuk HMI—untuk melakukan refleksi kritis. Bertahan pada nilai, namun adaptif dalam cara. Setia pada ideologi, namun progresif dalam strategi.

Dalam situasi ketika kaum muda diposisikan sebagai ancaman, distigmatisasi, dan dikelola melalui logika pasar serta pengawasan rezim, HMI sejatinya telah memiliki landasan ideologi yang tegas melalui NDP . NDP bukan sekadar dokumen kaderisasi atau teks historis, melainkan kerangka etik dan politik yang menegaskan bahwa manusia—sebagai khalifah—tidak boleh direduksi menjadi objek pasar maupun instrumen kekuasaan.

NDP menempatkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan pembebasan sebagai inti perjuangan. Dalam konteks “perang terhadap kaum muda”, NDP seharusnya dibaca sebagai kritik langsung terhadap neoliberalisme yang meminggirkan ruang publik, mematikan daya kritis, dan menormalisasi ketimpangan. Ketika kaum muda dilunakkan secara politik dan diarahkan menjadi generasi yang apolitis, posisi HMI seharusnya tegas: berdiri di pihak pembebasan dan independensi, bukan penyesuaian.

Didalamnya idiopolstratak HMI menemukan makna strateginya. Ideologi memberi arah nilai—Islam sebagai kekuatan emansipatoris. Politik menentukan keberpihakan—bersama kaum muda, buruh, dan kelompok tertindas. Penyusunan strategi menuju jangka panjang—membangun kesadaran kritis dan kekuatan sosial. Sementara taktik menjadi bentuk praksis—advokasi, pengorganisasian, produksi pengetahuan, dan perebutan ruang publik.

Tanpa idiopolstratak, NDP berisiko teks menjadi normatif yang steril. Sebaliknya, tanpa NDP, idiopolstratak kehilangan jiwa ideologisnya. Keduanya harus hadir sebagai satu kesatuan: nilai yang hidup dan gerakan yang berpihak.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bagi HMI hari ini bukanlah seberapa adaptif organisasi ini terhadap perubahan zaman, melainkan seberapa setia HMI pada amanat sejarahnya . Apakah HMI akan larut dalam logika “generasi produktif” yang apolitis, atau justru menegaskan kembali pemuda sebagai subjek perubahan sosial?

Di dunia yang menjadikan perang, pengawasan, dan pasar sebagai norma, keberanian untuk berpihak pada kerahasiaan adalah tindakan politik paling radikal. Di situlah HMI seharusnya berdiri bukan sekadar sebagai organisasi mahasiswa Islam, melainkan sebagai kekuatan ideologis yang menolak menjadikan kaum muda sebagai musuh, dan memilih menjadikannya harapan .

 

Mahmut Mukadar adalah Sekertaris Umum BADKO HMI  Jawa Tengah - D.I. Yogyakarta 2024-2026.