Cilacap, Politika.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kemunculan fenomena super El Nino atau yang kerap disebut “El Nino Godzilla” sepanjang tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, di Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (14/4/2026). Ia menjelaskan bahwa hingga semester pertama tahun ini, kondisi El Nino-Southern Oscillation masih berada pada fase netral.
Meski demikian, memasuki semester kedua, terdapat peluang pergeseran menuju El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat. “Potensinya sekitar 55 persen, terutama pada periode Juni sampai Agustus,” ujarnya.
ENSO sendiri merupakan fenomena iklim global yang dipengaruhi interaksi antara atmosfer dan laut di Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini terbagi dalam tiga fase utama, yakni El Nino, La Nina, dan netral. El Nino ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Pasifik tengah, sedangkan La Nina menunjukkan kondisi sebaliknya.
Teguh menuturkan, dampak El Nino di Indonesia umumnya berupa berkurangnya curah hujan. Namun, besar kecilnya dampak tersebut sangat dipengaruhi kondisi suhu perairan di wilayah Indonesia. Jika suhu perairan relatif dingin, penurunan curah hujan bisa terjadi lebih signifikan. Sebaliknya, jika suhu laut cenderung hangat, dampaknya tidak terlalu terasa.
Di sisi lain, La Nina justru berpotensi meningkatkan curah hujan, terutama ketika suhu permukaan laut di perairan Indonesia ikut menghangat.
Ia juga menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diukur berdasarkan anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4. Kategori lemah berada pada kisaran 0,5–0,9 derajat Celcius, moderat 1,0–1,4 derajat Celcius, kuat 1,5–1,9 derajat Celcius, dan sangat kuat jika mencapai atau melampaui 2,0 derajat Celcius.
Terkait istilah “El Nino Godzilla”, Teguh menegaskan bahwa sebutan tersebut bukan istilah resmi dari BMKG. “Itu hanya istilah populer untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat, seperti yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015,” jelasnya.
Ia kembali menegaskan bahwa pada 2026 tidak ada indikasi menuju El Nino ekstrem. Fenomena yang mungkin terjadi hanya El Nino dengan intensitas ringan yang mulai berkembang pada paruh kedua tahun.
Meski begitu, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi berkurangnya curah hujan, khususnya di wilayah rawan kekeringan. BMKG juga akan terus memperbarui informasi perkembangan ENSO secara berkala sebagai langkah antisipasi dini.