Jakarta, Politika.co.id - Tim putra Indonesia national badminton team mencatat sejarah pahit di ajang Thomas Cup 2026 setelah untuk pertama kalinya gagal melaju dari fase grup. Kepastian itu didapat usai Indonesia takluk 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D di Forum Horsens, Rabu (28/4/2026) WIB.
Hasil tersebut menjadi anomali besar bagi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai raksasa bulu tangkis dunia dengan koleksi 14 gelar Piala Thomas. Sejak debut pada 1958 hingga edisi 2024, Indonesia tak pernah absen menembus fase gugur, dengan capaian terburuk sebelumnya hanya sampai perempat final pada 2012.
Namun di edisi 2026, tradisi itu akhirnya terhenti. Indonesia harus puas finis di peringkat ketiga Grup D, kalah bersaing dengan Thailand sebagai juara grup dan Prancis yang melaju sebagai runner-up.
Sebenarnya, langkah Indonesia sempat terlihat meyakinkan setelah meraih dua kemenangan awal, masing-masing atas Aljazair (5-0) dan Thailand (3-2). Namun kekalahan telak dari Prancis di laga terakhir menjadi penentu yang menggagalkan langkah Jonatan Christie dan rekan-rekannya.
Persaingan ketat di Grup D membuat tiga tim—Indonesia, Thailand, dan Prancis—mengoleksi jumlah kemenangan yang sama. Namun, Thailand unggul setelah mengalahkan Prancis 4-1 dan menyapu bersih Aljazair 5-0, sehingga berhak atas posisi puncak. Sementara Prancis unggul selisih kemenangan atas Indonesia untuk mengamankan tiket kedua ke fase gugur.
Pada laga krusial kontra Prancis, Indonesia gagal membendung laju lawan di empat partai awal. Jonatan Christie harus mengakui keunggulan Christo Popov dengan skor 19-21, 14-21. Alwi Farhan kemudian kalah 16-21, 19-21 dari Alex Lanier.
Situasi semakin sulit setelah Anthony Sinisuka Ginting takluk dramatis dari Toma Junior Popov dengan skor 22-20, 15-21, 20-22. Kekalahan berlanjut di sektor ganda pertama, saat Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani tumbang 19-21, 19-21 dari pasangan Eloi Adam/Leo Rossi.
Indonesia baru meraih satu poin hiburan di partai penutup melalui pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang mengalahkan duet Popov dengan skor 21-18, 19-21, 21-11. Namun kemenangan tersebut tak mampu mengubah nasib tim.
Kegagalan di Horsens ini menjadi pukulan telak bagi tradisi panjang Indonesia di Piala Thomas, sekaligus menjadi bahan evaluasi besar bagi pembinaan bulu tangkis nasional ke depan.