Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pemerintah telah membuka 93 Sekolah Rakyat permanen di berbagai daerah. Jika digabung dengan sekolah rakyat rintisan yang telah lebih dulu berjalan, totalnya kini mencapai 182 sekolah.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Prabowo mengatakan, pembangunan Sekolah Rakyat bukan sekadar penambahan jumlah fasilitas pendidikan. Program tersebut menjadi upaya pemerintah membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Semua kabupaten akan punya satu sekolah rakyat,” ujar Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo menceritakan sejumlah kisah siswa yang kembali mendapatkan kesempatan bersekolah melalui program tersebut. Salah satunya Muhammad Rizki Pratama, siswa berusia 12 tahun.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Rizki sempat putus sekolah dan harus membantu keluarganya mencari penghasilan. Ia bahkan pernah mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual.
Prabowo menyebut kondisi tersebut menunjukkan beratnya beban yang harus ditanggung seorang anak dari keluarga kurang mampu.
“Bayangkan, Rizki berdiri lagi. Bayangkan, badan seperti ini, naik sepeda, membawa 30 kilo ikan. Luar biasa kau Rizki, kau anak yang baik,” kata Prabowo.
Saat masuk Sekolah Rakyat, Rizki belum lancar membaca dan belum mampu berhitung dengan baik. Namun, setelah kembali mendapatkan kesempatan belajar, ia mulai menata kembali masa depannya.
“Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak. Saya yakin Rizki, kau akan menjadi pribadi yang kuat,” ujar Prabowo.
Selain Rizki, Prabowo juga menceritakan Citra Nur Ramadhani, siswi asal Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan.
Citra hampir putus sekolah ketika duduk di kelas IV SD karena harus membantu ibunya berjualan kacang. Ayahnya telah meninggal dunia, sedangkan ibunya merupakan penyandang disabilitas.
Melalui Sekolah Rakyat, Citra dapat kembali fokus menjalani pendidikan. Ia bahkan mampu meraih prestasi sebagai juara karate tingkat kabupaten.
Menurut Prabowo, kisah Rizki dan Citra menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak untuk meraih cita-cita.
“Capaian ini membuktikan bahwa pelajar dari keluarga yang paling tidak berdaya, paling tidak mampu, jika diberi kesempatan, diberi fasilitas, diberi bimbingan, bisa mencapai prestasi yang tertinggi,” tegasnya.
Prabowo menegaskan pemerintah akan terus memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Rizki, Citra, dan seluruh siswa-siswi Sekolah Rakyat di manapun kalian berada, kami di sini untuk kamu semua. Kami semua di sini untuk memastikan bahwa kamu punya masa depan, kamu punya kesempatan yang baik. Tidak ada anak Indonesia pun yang akan kita tinggalkan,” pungkasnya.