POLITIKA.CO.ID — Puluhan warga terdampak gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 7,7 di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan secara mandiri di perbukitan sekitar SMA Negeri 1 (SMANSA) Aesesa. Hingga Selasa (18/8/2026), para pengungsi mengaku belum tersentuh bantuan logistik maupun tenda darurat dari pihak manapun.
Gempa yang mengguncang pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04:58 WIB tersebut berpusat di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay. Guncangan kuat ini mengakibatkan kerusakan parah di sejumlah area, termasuk Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, yang menyebabkan puluhan rumah warga roboh.
Kelompok pengungsi yang bertahan di atas bukit didominasi oleh kelompok rentan, mulai dari bayi, anak-anak, ibu rumah tangga, hingga para lansia. Untuk bertahan hidup sehari-hari, warga terpaksa mengandalkan pasokan bahan makanan seadanya yang dikumpulkan secara swadaya atau patungan.
Justan, salah seorang pengungsi di lokasi tersebut, mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan kian mendesak karena minimnya fasilitas perlindungan dan kebutuhan dasar.
"Sebagian besar pengungsi berasal dari RT 28 Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, yang rumahnya roboh akibat gempa. Kami belum mendapatkan bantuan apa pun sejak hari pertama," ujar Justan kepada Politika, Selasa (18/8/2026).
Justan menegaskan bahwa keberadaan bayi dan lansia menjadi perhatian utama saat ini. Ia berharap pemerintah daerah maupun lembaga penanggulangan bencana dapat segera menjangkau lokasi mereka.
"Ini kan ada orang tua sama bayi juga, jadi semoga bantuannya bisa cepat sampai. Kami sangat butuh makanan dan tenda yang layak," tambahnya.
Tantangan Pendistribusian dan Keterbatasan Logistik
Dilansir dari Antaranews, Penanggung Jawab Posko Darurat Nagekeo, Johanes D. Kristianus, mengonfirmasi bahwa ketersediaan pasokan logistik vital saat ini masih sangat terbatas, khususnya beras, telur, air mineral, serta tenda pengungsian.
"Logistik yang tersedia diprioritaskan untuk kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil, dan warga sakit, serta titik-titik kumpul dengan kepadatan tertinggi," jelas Johanes saat dihubungi dari Kupang.
Ia menambahkan, hingga hari keempat penanganan tanggap darurat, tantangan terbesar dalam penyaluran bantuan adalah sebaran titik pengungsian yang tidak terpusat.
Banyak warga memilih mengungsi secara mandiri di bukit, rumah kerabat, maupun fasilitas umum tanpa melapor, sehingga membutuhkan pencatatan ketat agar bantuan dapat tersalurkan secara tepat sasaran.