Semarang - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Jawa Tengah menunjukkan tren positif sepanjang semester pertama 2026. Nilai ekspor pada periode Januari hingga Juni 2026 mencapai 7.207,69 juta dolar AS atau tumbuh 23,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Jawa Tengah Ali Said mengatakan, kenaikan tersebut terutama ditopang oleh ekspor komoditas nonmigas yang masih menjadi tulang punggung perdagangan luar negeri Jawa Tengah. Selama enam bulan pertama tahun ini, nilai ekspor nonmigas mencapai 6.701,28 juta dolar AS atau meningkat 17,98 persen dibandingkan Januari-Juni 2025.

Sementara itu, ekspor komoditas migas melonjak signifikan hingga 227,43 persen menjadi 506,42 juta dolar AS. Pada Juni 2026 saja, total nilai ekspor Jawa Tengah tercatat sebesar 1.342,37 juta dolar AS atau naik 28,78 persen dibandingkan Juni tahun lalu.

"Secara kumulatif, peningkatan nilai ekspor nonmigas didorong oleh sektor industri pengolahan, yang tumbuh sebesar 18,29 persen. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan serta sektor pertambangan dan lainnya, mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,78 persen dan 13,19 persen," kata Ali dalam rilis pers daring, Senin (3/8/2026).

Amerika Serikat masih menjadi pasar ekspor terbesar bagi Jawa Tengah. Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai 3.297,62 juta dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Jepang dengan nilai ekspor 546,64 juta dolar AS dan Tiongkok sebesar 308,49 juta dolar AS.

Ali menjelaskan, ketiga negara tersebut menyerap 61,97 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah. Komoditas yang paling banyak diekspor meliputi pakaian dan aksesori bukan rajut, pakaian rajut, perlengkapan elektrik, serta ikan, krustasea, dan moluska.

Di sisi lain, BPS mencatat neraca perdagangan Jawa Tengah masih mengalami defisit pada semester pertama 2026. Kondisi ini dipicu nilai impor yang mencapai 8.505,88 juta dolar AS atau lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor.

Menurut Ali, kenaikan impor didominasi oleh meningkatnya pembelian bahan baku dan barang penolong yang tumbuh 27,12 persen. Selain itu, impor barang konsumsi maupun barang modal juga mengalami peningkatan selama periode tersebut.

"Secara kumulatif pada Januari-Juni 2026, neraca perdagangan Jawa Tengah mengalami defisit sebesar 1.298,19 juta dolar AS atau setara 1,29 miliar dolar AS. Defisit tersebut disebabkan oleh defisit komoditas migas sebesar 2.827,98 juta dolar AS. Namun, jika dilihat dari komoditas nonmigas, neraca perdagangan Jawa Tengah masih mencatat surplus sebesar 1.529,80 juta dolar AS," pungkas Ali.