Rembang – Petani di Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, mulai mengembangkan budidaya bawang merah menggunakan benih atau biji. Pengembangan tersebut menjadi salah satu upaya memperluas sentra produksi bawang merah di Kabupaten Rembang.

Manager Brigade Pangan Sumber Sejahtera sekaligus petani bawang merah, Alif Fachrijal Rosyid, mengatakan hasil panen bawang merah di wilayah Sumber cukup baik. Harga jual di tingkat petani juga relatif stabil.

“Untuk bawang merah yang sudah melalui proses pengeringan dan pemotongan daun, saat ini dibeli pedagang dengan harga sekitar Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Di tingkat pasar bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram,” ujarnya, Selasa (11/8).

Menurut Alif, budidaya bawang merah membutuhkan ketersediaan air dan persiapan sarana produksi sejak awal. Petani harus menyiapkan benih, pupuk, serta obat-obatan tanaman.

Serangan hama dan penyakit juga menjadi kendala utama dalam budidaya bawang merah.

“Tantangan terberat biasanya serangan hama dan penyakit, seperti ulat, kutu, tungau, dan thrips. Karena itu perawatan harus intensif, termasuk penyemprotan secara berkala,” jelasnya.

Saat ini, petani Sumber mulai mencoba metode budidaya menggunakan benih sebagai alternatif dari penggunaan umbi. Metode tersebut masih dalam tahap pengembangan dan pembelajaran.

“Kalau menggunakan benih, potensi hasilnya bisa mencapai 15 hingga 20 ton per hektare. Saat ini kami masih dalam tahap pengembangan dan pembelajaran, tetapi hasil awal cukup menjanjikan,” kata Alif.

Pengembangan bawang merah dari benih dilakukan dengan pendampingan penyuluh pertanian dan Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang.

Petani juga memanfaatkan teknologi drone untuk penyemprotan tanaman. Drone tersebut merupakan bantuan Brigade Pangan yang sebelumnya digunakan untuk tanaman padi.

“Drone yang kami gunakan berasal dari bantuan Brigade Pangan. Awalnya untuk tanaman padi, tetapi saat musim kemarau kami manfaatkan untuk bawang merah dan hasilnya cukup efektif,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto mengatakan pengembangan bawang merah di Rembang masih memiliki peluang besar. Komoditas tersebut dinilai memiliki prospek pasar yang baik.

“Potensi hortikultura utamanya bawang merah ini terus berkembang di Kabupaten Rembang. Prospek pasarnya juga relatif bagus. Selama ini kita masih sangat bergantung pada daerah Brebes dan Tegal. Karena itu, untuk wilayah Pantura kami berupaya agar Rembang menjadi salah satu daerah penghasil bawang merah,” ujarnya.

Selain Sumber, budidaya bawang merah juga berkembang di Kecamatan Kragan, Bulu, dan sejumlah wilayah lainnya.

Pemkab Rembang menargetkan luas tanam bawang merah terus bertambah. Pengembangan juga didorong melalui keterlibatan petani muda dan penggunaan teknologi pertanian.

“Harapan kami ke depan ada penambahan luas tanam bawang merah. Apalagi dengan adanya peran petani milenial yang mulai tertarik mengembangkan komoditas ini. Kami berharap Rembang dapat menjadi salah satu sentra bawang merah,” katanya.

Agus juga mendorong petani memanfaatkan alat dan mesin pertanian modern, termasuk drone.

“Kami mendorong teman-teman petani milenial untuk memanfaatkan drone secara optimal sekaligus mengampanyekan kepada petani lain agar pertanian dengan sarana dan prasarana modern terus tumbuh dan berkembang,” jelasnya.

Data Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dintanpan Rembang menunjukkan produksi bawang merah meningkat dalam lima tahun terakhir.

Pada 2021 produksi bawang merah tercatat 9.137 kuintal dengan produktivitas 65,27 kuintal per hektare. Produksi kemudian meningkat menjadi 9.540 kuintal pada 2022, 9.691 kuintal pada 2023, 9.815 kuintal pada 2024, dan 11.226 kuintal pada 2025.

Pada 2025, luas panen bawang merah mencapai 118 hektare dengan produktivitas rata-rata 95,14 kuintal per hektare.

Angka tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang mencatat luas panen 109 hektare, produksi 9.815 kuintal, dan produktivitas 90,46 kuintal per hektare.

Pada 2025, Kecamatan Pamotan menjadi salah satu wilayah dengan produksi terbesar, yakni 5.550 kuintal dari luas panen 65 hektare. Sementara Kecamatan Gunem mencatat produktivitas tertinggi sebesar 236,83 kuintal per hektare dari luas panen 12 hektare dengan produksi 2.842 kuintal.

Pemkab Rembang berharap peningkatan produksi dan perluasan budidaya tersebut dapat mendorong Rembang menjadi salah satu sentra bawang merah di wilayah Pantura.