Blora - Seorang siswa SMPN 1 Blora diduga menjadi korban perundungan oleh sejumlah teman sekolahnya. Salah satu siswa yang diduga terlibat disebut merupakan anak anggota DPRD Blora.

Tokoh masyarakat Blora, Danu Sukoco, mengatakan dugaan perundungan terjadi dua kali pada Jumat dan Sabtu di awal Agustus 2026.

"Setelah itu pada hari Jumat korban dipukuli. Besoknya lagi dicari temannya, kemudian dipukuli dan ditendang lagi," ujar Danu.

Menurut Danu, sebelum pemukulan terjadi, korban sempat menjadi sasaran kejahilan teman-temannya. Korban disebut pernah dijebak dengan gayung berisi air yang diletakkan di atas pintu.

Korban kemudian melakukan hal serupa, tetapi tidak mengetahui siapa yang terkena jebakan tersebut. Setelah itu, korban disebut dipukuli dan ditendang.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka dan memar. Bibir korban bahkan harus mendapatkan jahitan. Korban kemudian mendapat perawatan di Rumah Sakit DKT.

Danu menyebut salah satu siswa yang diduga terlibat disebut sebagai ketua kelompok atau geng di lingkungan sekolah. Ia juga menyoroti orang tua salah satu siswa yang disebut merupakan anggota DPRD Blora karena sempat menganggap persoalan tersebut sebagai pertengkaran biasa antarsiswa.

Danu menilai sekolah perlu memperketat pengawasan untuk mencegah perundungan berulang.

"Kalau anak sekolah bertengkar apakah kemudian dimaklumi? Sekolah seharusnya bisa mengawasi. Guru, keamanan, kepala sekolah maupun guru BK harus mengetahui gelagat dan kondisi anak-anak," tegasnya.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polres Blora.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Sunaryo membenarkan adanya siswa yang dipukul oleh teman sekolahnya. Ia meminta sekolah mendalami kronologi secara utuh dan mempertemukan pihak terkait.

"Kemarin saya minta bapak ibu guru hadir ke rumah korban, bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya agar informasinya seimbang," jelas Sunaryo.

Dinas Pendidikan bersama Dinas Sosial telah mendatangi rumah korban dan berkoordinasi dengan sekolah serta siswa yang diduga terlibat.

Sunaryo mengatakan pihaknya tetap memantau laporan di Polres Blora. Jika proses hukum membutuhkan kehadiran anak-anak, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan sekolah.

"Ini usia anak, jadi harus hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Kami berharap persoalan ini tidak berlanjut ke jalur hukum jika masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.

Sunaryo menyebut sekolah telah memiliki program budaya sekolah aman dan nyaman. Namun, kasus perundungan masih menjadi tantangan sehingga pengawasan terhadap siswa perlu ditingkatkan.

Terkait jumlah siswa yang terlibat, Sunaryo mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun, beberapa siswa disebut telah mengakui melakukan pemukulan dan penendangan.

Kasus ini juga kembali menjadi perhatian karena sebelumnya pernah terjadi dugaan perundungan di SMPN 1 Blora pada November 2025. Peristiwa tersebut disebut terjadi di kamar mandi sekolah saat jam istirahat dan kini turut dilaporkan ke Polres Blora.