Semarang – Pati singkong disebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pendukung pemadaman kebakaran. Namun, pemanfaatan tersebut tidak berarti pati singkong dapat digunakan secara langsung sebagai zat pemadam api.
Peneliti Sekolah Vokasi (SV) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr. Mohamad Endy Julianto, menjelaskan bahwa pati singkong merupakan material organik yang justru dapat terbakar.
"Pati singkong bukanlah zat pemadam api secara alami. Justru, pati merupakan material organik yang dapat terbakar," katanya dalam keterangannya.
Menurut Endy, potensi pati singkong terletak pada kemampuannya untuk direkayasa menjadi formulasi berbasis air. Di antaranya water-enhancing agent, gel suppressant, maupun hidrogel.
Melalui rekayasa tersebut, pati tidak digunakan untuk menggantikan air sebagai pemadam. Sebaliknya, material itu berfungsi membantu air bertahan lebih lama pada permukaan vegetasi.
Air yang lebih lama melekat dapat menyerap panas, mempertahankan kelembapan, menurunkan temperatur bahan bakar, serta memperlambat penyebaran api.
"Jadi, yang menjadi kekuatan bukan sekadar tepungnya, melainkan rekayasa material yang mengubah pati menjadi sistem pemadam yang lebih fungsional," ujarnya.
Endy mengatakan kajian tersebut sekaligus memberikan penjelasan ilmiah terhadap istilah populer "ubi bombing". Menurut dia, pemanfaatan singkong untuk penanganan kebakaran perlu dilihat dari perspektif rekayasa, bukan sekadar karena bahan tersebut mudah diperoleh.
Dalam perspektif teknik kimia, pati singkong memiliki gugus hidroksil yang bersifat hidrofilik sehingga dapat berinteraksi dengan air. Karakter ini memungkinkan pati dikembangkan menjadi material yang mampu mempertahankan kandungan air.
Sejumlah proses, seperti gelatinisasi, modifikasi, grafting, dan cross-linking, dapat digunakan untuk mengembangkan pati menjadi jaringan hidrogel.
Konsepnya, hidrogel berbasis pati tersebut membuat air lebih tertahan pada permukaan vegetasi. Dengan begitu, adhesi meningkat, panas lebih banyak terserap, temperatur bahan bakar turun, dan propagasi api dapat diperlambat.
Namun, Endy menegaskan bahwa pengembangan formulasi tersebut harus mempertimbangkan berbagai karakteristik teknis. Formulasi ideal harus memiliki keseimbangan antara viskositas, kemampuan menyerap air, daya lekat, kemudahan dipompa dan disemprotkan, serta ketahanan terhadap evaporasi dan runoff.
Karakter shear-thinning juga menjadi faktor penting. Material harus cukup encer ketika dipompa dan disemprotkan, tetapi mampu menjadi lebih melekat setelah mencapai permukaan vegetasi.
"Inilah wilayah pertemuan antara rekayasa kimia, mekanika fluida, dan rheology," kata pengajar Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) SV Undip itu.